Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan". Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari...
![]() |
| (Seorang ibu-ibu sedang membalut donat dengan coklat) |
Kegiatan Blogger Camp yang dilangsungkan serentak
di empat kota, termasuk Makassar dukung oleh Indosat dengan aplikasi barunya
Indosat Love dan Net Media serta beberapa pihak lain. Sangat tepat panitia memilih
PPLH Puntondo sebagai lokasi kegiatan karena tempatnya sunyi, cocok untuk para
penulis, lingkungannya yang nyaman.
“Ini namanya pepes
tahu,” kata seorang staf dapur PPLH Puntondo sembari menambahkan isi talam. Ia
tersenyum simpul lalu kembali duduk di kursi yang terletak di pojok ruangan. Ia
begitu welcome menyambut peserta Blogger Camp Makassar.
Dengan tertib
peserta mengambil satu persatu makanan yang terletak di atas meja. Ada yang
hanya mengambil sedikit dengan perasaan malu-malu, ada pula yang tak
segan-segan memenuhi piringnya, termasuk saya. Maklum saja, perjalanan sekitar 3
jam dari Kedai Pojok Adiyaksa, Makassar lumayan melelahkan. Isi perut terasa dikocok
melewati jalan yang kurang mulus.
Sepotong ikan nila,
pepes tahu yang baru pertama kalinya saya temukan, serta bersendok-sendok
sambal tomat. Sambalnya sungguh menggugah selera makan.
Belakangan saya
ketahui, setelah menemui ibu-ibu yang bekerja setulus hati di belakang layar
alias dapur, ternyata mereka tidak pernah menggunakan vetsin atau msg dalam makanan apapun yang disajikan.
![]() |
| (Memasak kepiting laut untuk makan siang) |
Waktu terus melaju,
kami pun bergerak menuju aula untuk sharing
dengan beberapa komunitas blogger lain. Pelan-pelan embusan angin menembus
kulit, jam di tangan saya baru menunjukkan pukul 20.00 WITA tapi kantuk mulai
menyerang.
Beruntung, setelah
sesi sharing ada coffee break. Kami melangkah turun ke bawah aula, di sana sudah
ada seorang perempuan, petugas dapur siap menyambut kami.
“Silahkan dicoba sarabbanya,” katanya sambil menyerahkan
cangkir kepada saya.
Sarabba, minuman jahe khas Makassar dan pisang serta ubi goreng di
atas meja. Sangat pas dengan kondisi malam yang semakin menggigil. Aroma ikan
masih tertinggal dalam mulut kami saat makan tadi seketika lenyap kala cairan Sarabba menerobos tenggorokan kami.
Kata Batara, teman
saya, “Sarabba paling enak ini, dari
sekian kali minum sarabba. Kayak pas-pas campurannya. Gula merahnya, santannya
pas begitu.” Memang, minuman ini sangat menarik peserta blogger camp, beberapa peserta bahkan menambah Sarabba-nya. Ternyata minuman tersebut dibuat oleh pengelola PPLH
sendiri. Dimana mereka semua adalah penduduk lokal sehingga sudah ahli
membuatnya.
Sebenarnya saya masih
ingin menikmati Sarabba di bawah rembulan
sembari bercakap dengan peserta lain, sayangnya panitia meminta peserta untuk
segera menuju aula. Lalu, setelah materi selesai, saya kembali turun ke tempat
minum tadi, bermaksud menemui perempuan penjaga meja tadi. Namun yang saya
dapati hanyalah cangkir-cangkir yang telungkup di atas piringannya.
Pagi kembali tiba,
peserta menuju restoran untuk sarapan. Di sana, perempuan yang saya temui di
samping meja makan bukan lagi perempuan kemarin. Katanya mereka memang
ganti-gantian. Namun seperti perempuan semalam, ia tak kalah ramahnya, menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang saya berikan. Selain ia yang menjaga meja makan,
seorang lagi menjaga di meja minuman.
![]() |
| (Peserta mengambil sarapan) |
Terima kasih kepada
mereka yang bekerja ikhlas menyiapkan makanan. Saya tidak bisa membanyangkan
bagaimana Blogger Camp dapat berjalan
baik jika waktu makan selalu terlambat.
Kita begitu
menikmati dan meresapi rasa masakan yang dimasukkan ke mulut kita, tapi kenapa
kita tidak pernah mempertanyakan siapa yang bekerja keras dan tulus di balik dapur.




Komentar