Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan". Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari...
Segelas cappucino
yang ku seduh belum genap 10 menit yang lalu hampir habis, saya menyeruputnya
begitu cepat. Selain karena tidak begitu panas untuk ukuran kopi, juga karena bingung
mau memulai bercerita dari mana setelah sekian lama tidak mengisi blog karena
alasan yang mungkin semua orang akan mengatakannya, “sibuk.” Padahal sebenarnya
banyak kisah yang bisa diceritakan, karena sedang berada di lingkungan baru. Saya
terbawa suasana lain waktu itu dan memilih menikmati saja.
Mungkin
karena dulu sering disibukkan dengan banyak kegiatan dan banyak teman, sekarang
merasa aneh sendiri tanpa itu semua. Apalagi jika kebetulan melihat foto,
mengingat, atau berada di tempat yang dulu sering dijadikan tempat ngumpul
dengan teman. Masa kuliah yang membuat kita sibuk dengan tugas-tugas makalah
yang saya senang mengerjakannya menjelang deadline,
di tambah dengan kegiatan rapat organisasi di sana sini. Lulus kuliah, meski jobless, tetap saja sibuk dengan
kegiatan organisasi. Moreover, saat
lulus LPDP dan mengikuti program pengayaan bahasa malah seperti anak sekolahan
yang datang ke kelas dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore, selama 4 bulan. Ini
yang paling membuat susah move-on. Saat
sendiri seringkali terbayang kebersamaan dengan mereka yang sudah seperti keluarga
berbagai suka dan duka, saling menyemangati, dan berjuang bersama demi mimpi di
hati kita. Melihat foto saja rasanya sedikit nyesek dan terus kepikiran, “Kapan ya bisa kumpul sama mereka lagi!”
Ah, tidak mau bahas ini sekarang, nanti jadi baper :(
Well, sore
kemarin selepas mengunjungi kost adik, menelusuri jalan-jalan kota yang begitu ramai
sesesak kenangan-kenangan di pikiran kita. Dan tidak ada agenda khusus hari itu
membuat saya bingung mau kemana dan ngapain hari ini, hingga ketika motor
berbelok ke arah kampus saya memutuskan berhenti di tepi danau menikmati kesendirian.
Pelataran
Ipteks dan halamannya yang disesaki orang-orang rapat dan latihan seperti
biasanya, mengharuskan saya memilih tempat di bawah pohon dan jauh dari suara-suara
mereka. Sekadar duduk, mengamati sekitar, dan automatically cerita-cerita yang lalu teringat kembali. Kukeluarkan
laptop dari dalam tas, membuka aplikasi Chrome setelah mengaktifkan hotspot hp. Mencari informasi persyaratan
pendaftaran kampus, membuka email hingga facebook sambil menulis CV. Namun gerakan
tangan saya serba lambat karena lebih senang mengamati orang-orang sekitar dan danau
yang sendu baru saja ditinggal hujan.
Kudapati
beberapa serangga yang entah jatuh dari atas pohon atau bergerak dari bawah tumpukan
daun-daun kering, pada lengan jaket yang
kukenakan. Bahkan saya merasa salah satu dari mereka kembali ke jaket setelah ku jatuhkan
ke tanah. Tapi saya tidak begitu peduli dan tetap di posisi duduk, sebaliknya selama
tidak menggigit saya menikmatinya saja, mungkin mereka sengaja dikirim untuk
menemani saya.
Tiga perempuan
dan seorang laki yang sedari tadi berjalan memegang baki berisi minuman dingin
berjalan ke arah saya. Saya yakin mereka sekelompok panitia kegiatan yang akan
menawarkan minuman dengan alasan, “lagi pencarian dana Kak!” Pura-pura cuek dan
asyik main laptop saja, padahal saya juga kehausan duduk sedari tadi, sendiri
pula. Kubayar segelas minuman bersoda dan mereka berlalu pergi, lebih cepat
dari pelangi yang hilang ditelan matahari.
![]() |
| Lucky, tiba-tiba pelangi muncul di atas danau |
Inspirasi-inspirasi
untuk menulis baru muncul di saat perasaan sayu di tengah ramainya kenangan yang
lalu-lalang di pikiran sendiri seperti ini, namun suara adzan magrib masjid
kampus seberang danau mengharuskan saya beranjak dari tempat duduk.


Komentar