Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan". Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari...
Petualangan mendorong sepeda pada POSTINGAN SEBELUMNYA
masih berlanjut.
Meski mendorong sepeda sejak tadi, namun sama sekali
tidak ada keringat entah karena dinginnya udara atau bisa juga ini tanda kurang
sehatnya saya, seperti yang pernah dikatakan salah seorang teman ketika kami
sedang memakan makanan pedas dan ia sudah bercucuran keringat sementara jidat
saya masih kering-kering saja meski lidah sudah seperti terbakar. Entah!
Hal yang paling saya sukai—seperti anak kecil yang menjumpai
perosotan—adalah ketika menemui jalanan menurun. Bisa langsung duduk di saddle,
membiarkannya melaju tanpa harus meroda.
Saya berbelok ke arah kanan, keluar dari jalan raya
menuju jalan setapak. Suara aliran air mulai terdengar, semakin saya melangkah
semakin jelas pula hingga dengan jelas tampak sungai dikelilingi pohon-pohon
besar tak berdaun. Indah seperti di film-film petualangan. Sambil melangkah
saya terus memperhatikan layar hp, ah, aplikasi Maps mengecewakan, dari gps-nya
saya sudah berdiri di tengah jembatan di atas aliran sungai, tapi pada
kenyataannya kaki masih memijak di jalan yang tersusun dari paving block tersebut. I
couldn’t find any bridge. Kecewa dengan itu, saya pun mendekati aliran sungai
setelah meletakkan sepeda begitu saja di tepi jalan. Suara air cukup
menenangkan.
Sebenarnya ingin sekali saya merasakan air sungai yang
entah seberapa derajat dinginnya itu, tapi tiba-tiba yang muncul di pikiran
adalah jangan sampai tiba-tiba ada buaya di sungai ini lalu menerkam tangan
saya sebagai sarapan pagi mereka, ngeri. Ah, ini karena kebanyakan nonton film. Makanya, saya
terus saja berjalan sambil menikmati.
Semakin saya berjalan mengikuti pola jalan setapak
yang sepertinya terbentuk dengan sendirinya setelah berkali-kali dilalui
manusia, semakin terasa nikmat udara dingin menembus kulit. Tiba-tiba seekor
anjing hitam besar dari depan berlari ke arah ku sambil mengonggong, taringnya nampak jelas dengan kedua telinga tegak ke atas. I don’t know anjing jenis apa—di Aberdeen terlalu banyak anjing
dari yang paling nge-gemes-in sampai yang paling sangar.
Karena pergerakannya sangat cepat, saya cuma bisa
diam, tegak, dan tak lupa saya mengepalkan kedua tangan dengan posisi
mengenggam ibu jari sebagaimana yang pernah diajarkan oleh entah siapa ketika
saya masih kecil bahwa kalau lewat di depan anjing jangan lari tapi cukup
sembunyikan kedua ibu jarimu, maka ia takkan berani.
Pasrah, tapi saya tidak menutup mata, sebaliknya saya
menatapnya balik. Setidaknya jika teman-teman menertawakan saya karena digigit
anjing, saya bisa menjawab kalau saya pun melakukan perlawanan.
Ha! Tiba-tiba berputar balik dan menghilang di balik
semak-semak. How lucky I was!
Apa ini karena kepalang tangan saya. Entah, saya pun
tidak yakin meskipun ini kesekian kalinya saya membuktikan keampuhan ajaran itu
namun tidak ada atau belum ada alasan ilmiah. Ah, ada Zat yang Maha Menolong
dan aksi menyembunyikan ibu jari hanya bentuk sugesti terhadap diri sendiri.
Mungkin apa pun bentuk action-nya jika kita mensugesti diri sendiri untuk
percaya, hasilnya akan sama juga. Entah!
Tidak jera dengan situasi tadi, saya masih terus
menyusuri sungai, tapi kaki tidak sesentak sebelumnya. Dari kejauhan si Blacky muncul kembali, tanpa pikir
panjang saya langsung memutar badan berlari mengambil sepeda, mendorongnya pergi.
Tak satu pun foto sempat diambil.
Matahari mulai terbit perlahan dari timur, cahayanya
terlalu menyilaukan mata, sayangnya tidak sehangat matahari pagi di
khatulistiwa. Meski sedikit kecewa sebab tak menemukan jembatan, dan kurang
puas menikmati sungai namun saya bahagia karena berhasil melawan ketakutan.
Di jalan yang agak lenggang di belakang gedung kotak
perpustakaan kampus, saya berhenti sejenak. Rencananya mau mencungkirbalikkan
sepeda, pura-pura sedang meratapi sepeda yang rusak—meski sebenarnya
betul-betul rusak—sambil menunjukkan kaos tangan yang penuh oli untuk mengambil
sebuah gambar. Pencitraan. Ini tidak baik, sangat tidak bisa ditiru.
Setelah sepeda dibalik, naluri mendorong saya, menarik
rantai depan dengan kedua tangan lalu satu kaki (sepatu) menahan rantai
belakang. Surprisingly, rantai yang tadinya terjepit berhasil keluar dan
kembali ke derailleur. Alhamdulillah, rasanya ingin melompat. Seorang perempuan paruh baya yang akan menyeberang jalan
diikuti anjingnya melempar senyum lalu bertanya, “Are you fine?”
“Yes, yes,
that’s fine.” Sambil senyum
ke ibunya, saya menaiki sepeda, melaju pulang. Saking senangnya saya lupa
mengambil foto untuk pencitraan tadi. Untunglah.
Berjalanlah meski mungkin kamu tidak menemukan
kebahagiaan yang kamu rencanakan. Namun percayalah ada kebahagiaan lain yang
menantimu hampir di setiap persinggahan. Silakan kamu pilih.
Komentar