Pandemik Covid-19 yang entah kapan ujungnya berdampak ke segala aspek, termasuk pendidikan. Pembatasan jarak sosial pun mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan secara daring, sistem perkuliahan yang mungkin tidak asing ditelinga kita sejak dulu, namun banyak dari kita yang tidak siap baik secara psikologi maupun secara fasilitas. Salah satu ketidaksiapan itu terlihat dari kita yang mungkin awalnya kebingungan menggunakan beragam platform pertemuan daring, lalu kemudian terjebak dalam fase "kecanduan". Karena perubahan yang tiba-tiba inilah, berbagai kampus mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mengadaptasi sistem perkuliahan daring yang diharapkan dapat memudahkan baik pengajar maupun mahasiswa. Ada yang membuat kebijakan sekadar berupa aturan-aturan pelaksanaan, ada pula yang langsung memberikan kebijakan berupa solusi atau aksi nyata misalnya memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa. Tapi apa pun itu, yang namanya kebijakan, pasti ada pro dan kontra dari...
“Jangan lupa kirimkan database anggota baru Kak”
“Ingatkanka Dek, SMS saja. Karena Aku sering lupa”
“Waduh, Aku juga kadang lupa Kak. Ingatkanka tuk SMS
ki”
Kemudian kau melepas tawa, juga Aku. Kita menertawakan diri masing-masing kala itu.
Mengapa Selalu saja kita men-judge diri sendiri sebagai pelupa.
Sudah berapa banyak artikel tentang cara melawan
lupa yang telah kita baca, kita lumat habis, hingga isinya sudah di hafal luar
kepala. Bahkan ada juga yang rela merogoh kocek mengikuti berbagai seminar
tentang melawan lupa.
Katanya, Melawan lupa bisa dengan menulis dengan selalu
membawa catatan kecil di saku, membiasakan bersikap tenang, sesekali me-refresh otak, dan sebagainya. Aku
percaya itu, meski tak ada yang berani menjamin 100%. Adakah ?
Aku tidak mau membahas itu. Terlalu munafik rasanya
jika Aku menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana melawan lupa, sedang Aku
sendiri adalah makhluk pelupa.
Lupa adalah hal yang wajar dalam pergumulan hidup
manusia, siapa pun bisa dilanda lupa karena ada banyak hal yang kita kerja dalam
sehari dan tak mungkin kita mengingat semua itu. Entah lupa akut ataupun lupa
biasa, keduanya sama saja bisa berakibat fatal. Banyak bencana kebakaran yang
disebabkan karena pemilik rumah lupa mematikan kompor, bahkan seseorang bisa
saja dipecat dari pekerjaannya hanya karena lupa menjembut bosnya.
Namun, ada juga orang-orang yang kadang malah
mengambil keuntungan dari orang-orang pelupa. Sebut saja dua tokoh kita, Si
Pelupa dan Si Upa’. Si Upa’ meminjam sejumlah uang pada Si Pelupa dan berjanji
akan mengambalikan paling lambat dalam seminggu. Namun berminggu-minggu kemudian,
Si Pelupa tak juga menagih Si Upa’. Maka beruntunglah Si Upa’ karena ia tak
perlu membayar uang itu. Ia pura-pura tak tau saja.
Tapi, mari kita kembali pada pernyataan di atas
bahwa, “Siapa pun bisa dilanda lupa”. Jadi bisa saja Si Upa’ juga lupa dengan
utangnya. Maka tak apalah jika kita saling mengingatkan. Itu lebih baik.
Dan contoh paling sering terjadi adalah, karena Si
Pelupa lupa mengambil barangnya, misalnya hand
phone yang dia letakkan di atas meja restoran. Kemudian Si Upa’ yang duduk
semeja dengannya tak menegurnya. Ia malah mengantongi barang tersebut dan
berpura-pura tak tau apa-apa. Dasar! Aku tak paham jelas itu termasuk mencuri,
merampok, atau apa. Yang Aku tahu dalam agama apa pun itu tidak dibenarkan.
Maka beruntunglah Si Upa’, tapi mungkin itu adalah keberuntungan terakhir yang
ia peroleh.
Ada juga orang yang suka berpura-pura lupa. Menutupi
kebohongannya dengan kata lupa. “Maaf Pak, Aku lupa kalau tugas ini minimal
lima lembar,” padahal ia hanya malas untuk menulis lebih banyak. “Maaf, Aku
lupa membayarnya kemarin,” ia tak mau jujur bahwa kemarin uang pinjaman itu
belum cukup untuk dikembalikan, dan jika saja orang itu tidak menagihnya ia
tidak akan mengembalikannya hari ini.
Lupa selalu dijadikan tameng untuk melindungi diri
sendiri, menjauh dari kesalahan. Dasar Pendusta! Atau maukah kita jika kita
betul-betul menjadi pelupa akut?
Ku angkat telpon yang berdering di
dekatku dan kujawab, “Bagaimana rapatnya? Sudah selesai? Maaf Aku lupa kalau
hari ini ada rapat.” Padahal Aku tak lupa, hanya malas meninggalkan kamar dan
memilih menuliskan tentang (L)upa’.
Komentar